Infertilitas Sperma dan Sistem Imun Tubuh

Hari ini aku bertemu sahabat lama. Biasalah jika lama tak bersua. Saling ledek, sedikit olok-olok dan tertawa bersama mengenang masa lalu. Tapi suasana tiba-tiba berubah, saat aku tanya kabar keluarganya.“Kami sedang mereview kembali hubungan kami”, katanya. Mereview kembali? Wah pilihan kata yang halus, tapi bagiku sama saja : rumah tangga kawanku dalam krisis.“Ketiadaan pengikat perkawinan, seperti anak, menyebabkan kami asik dengan kesibukan kami masing-masing. Jadinya ya begitulah, ada yang salah dalam komunikasi. Pertengkaran, perlahan, menjadi peristiwa yang akrab dalam rumah tangga. Mungkin jika ada anak-anak, keadaan tidak begini. Kami sudah memeriksakan ke dokter, hasilnya kami berdua normal-normal saja. Hanya ada masalah imunitas, yang menyebabkan kami tak dapat punya momongan”.

Ooo…begitu. Infertilitas memang sering menjadi masalah besar bagi perkawinan. Penyebab infertilitas bermacam-macam, mulai dari alat reproduksi yang tidak normal, kegagalan ovulasi sampai kualitas sperma yang buruk. Jadi infertilitas bisa saja datang dari pihak suami maupun istri.

Infertilitas didefinisikan sebagai kegagalan pasangan untuk mendapatkan anak setelah secara teratur (sering dan bersemangat) melakukan hubungan sexual selama 12 bulan berturut-turut. Jadi jika baru 6 bulan menikah belum punya anak, ya jangan dikatakan infertil dong..Dan jika pemeriksaan atas organ reproduksi suami maupun istri menunjukkan normalitas, maka infertilitas ini disebut unexplain infertility. Dari kasus ini, 60% merupakan infertilitas yang disebabkan sistem imun.

Sampai saat ini, sebetulnya terjadinya kehamilan merupakan fenomena yang menakjubkan para ahli. Sebab, dalam tubuh, ada satu sistem pertahanan yang disebut sistem imunitas. Sistem ini bertujuan untuk melindungi tubuh dari zat-zat asing yang mengganggu. Menurut sistem ini, apapun bentuk dan asalnya, jika masuk protein asing, maka sistem imun akan segera menangkap dan menolaknya. Lalu, jika protein yang masuk berupa sperma, bagaimana mungkin sperma tersebut dapat lolos dari sistem imun? Dan jika terjadi pembuahan, pertanyaannya menjadi lebih ekstrim “Why you not rejected by your mother?”

Hasil penelitian terhadap sistem imun dan kehamilan menunjukan bahwa terdapat berbagai mekanisme hormonal yang kompleks yang menekan atau mencegah terpicunya sistem imun terhadap janin. Mulai dari hormon yang terdapat dalam cairan seminal, plasenta dan uterus berpadu secara harmonis menekan sistem imun. Jika salah satu saja dari hormon tersebut tidak harmonis dengan hormon yang lain, maka yang terjadi adalah keguguran.

Bagaimana dengan sperma yang masuk, apakan tidak memicu sistem imun? Secara alamiah, sistem imun akan terpacu. Dalam keadaan normal, aktivasi sistem imun akan menjadi mekanisme seleksi atas sperma, sehingga diperoleh sperma yang sehat dan perkasa saja yang dapat membuahi sel telur. Namun jika respon imun terpicu secara berlebihan, ya itu tadi, sistem imun akan menjadi pembatas yang tak dapat ditembus sperma. Infertilitas..itu yang kemudian terjadi. Pada kasus ini terbentuk antibodi antisperma yang melebihi batas toleransi calon ibu sehingga sperma kehilangan kemampuan menembus sel telur. Dan menariknya, antibodi antisperma juga dapat diproduksi oleh pria, yaitu oleh pria yang menjalani vasektomi, pria yang mengalami cedera testikular dan infeksi. Pada pria demikian, jelas tidak dapat memproduksi sperma yang berkualitas tinggi. Sedangkan pada wanita, pembentukan antibodi antisperma belum dapat dipastikan penyebabnya.

Salah satu usaha untuk mengatasi unexplain infertility yang disebabkan sistem imun, adalah dengan menekan respon imun itu sendiri. Cara klasik adalah dengan terapi kondom. Tujuannya adalah menghindari istri terpapar dengan antigen sperma sehingga tidak terbentuk antibodi baru. Antibodi yang terlanjur terbentukpun akan berkurang secara alamiah akibat kemampuan hidup limfosist B (antibodi) yang terbatas. Lama terapi 3-6 bulan. Setelah itu, silahkan berhubungan suami istri dengan teratur, sering dan bersemangat, tanpa kondom tentunya.

Jika tak bersedia dengan terapi kondom, dapat digunakan obat yang tergolong imunosupresor, yaitu zat penekan sistem imun. Namun karena efek samping yang luas dan rentan terhadap resiko infeksi, pemakaian imunosupressor hendaklah melalui pertimbangan yang matang.

Cara yang lain adalah dengan imunoterapi seluler. Prinsipnya dengan cara mengambil sel darah putih suami dab diberikan kepada istri melalui imunisasi. Metode ini disebut Paternal Leukocyte immunization (PLI) dengan tingkat keberhasilan 95%. Hanya, metode ini hanya dapat dilaksanakan pada sarana medis tertentu.

Pada kawan lamaku, tak banyak yang bisa aku bantu. Semoga informasi tentang infertilitas ini dapat memberi pemahaman baru mengapa tak segera punya momongan. Dan aku harap pula kehidupan perkawinannya dapat diselamatkan. Semoga……