Obat Anti Hipertensi Anti Linglung

Pernah mengalami kenaikan tekanan darah? Wow….ndak enak ya..Kepala pusing, badan terasa pegal dan kaku dan bawaannya kadang marah melulu. Bukan penderita saja yang susah, orang disekelilingnya pun ikut-ikut stress. Kalau stress semua, ya bisa menaikan tekanan darah juga. Akhirnya…..bludrek semua dong…..

Hipertensi, darah tinggi kata orang, merupakan penyakit yang banyak penderitanya. Seseorang diklasifikasikan menderita hipertensi jika tekanan darah lebih dari 90/140. Tapi untuk kebanyakan orang Indonesia, tekanan darah diatas 70/120 kadang sudah terasa mengganggu. Tekanan darah antara 70/120 sampai 90/140 disebut pra hipertensi. Meski baru pra hipertensi, sudah terasa mengganggu lho….

Jenis Hipertensi

Lucunya, meski banyak penderitanya, penyebab sebagian besar hipertensi tidak diketahui. Hanya 10% yang diketahui etiologinya. Yang tidak diketahui penyebabnya disebut hipertensi primer, sedangkan yang jelas penyebabnya disebut hipertensi sekunder. Disebut hipertensi sekunder karena hipertensi ini terjadi akibat kerusakan/atau gangguan diluar sistem kardiovaskuler, seperti penyakit ginjal, gangguan endokrin dan obat. Hipertensi primer terjadi karena pengaruh berbagai faktor, seperti genetik, gaya hidup, stress, obesitas dan lain-lain.

Efek dari hipertensi telah banyak diketahui, dari sekedar pusing-pusing, payah jantung sampai stroke. Kematian juga sering terjadi pada penderita yang mengalami stroke. Satu dari efek hipertensi yang, mungkin, agak jarang diketahui adalah demensia pada usia lanjut. Demensia adalah kemunduran fungsi mental akibat pengaruh kerusakan otak oleh berbagai faktor. Demensia ditandai dengan perubahan kepribadian, kehilangan ingatan, daya pertimbangan yang buruk dan kemunduruan intelektualitas. Salah satu penelitian di Swedia menunjukkan bahwa 47% penderita demensia pada usia lanjut disebabkan oleh kerusakan vaskular akibat hipertensi. Data lain menyebutkan setiap kenaikkan 10 mmHg tekanan sistolik meningkatkan resiko sebesar 7% penurunan fungsi kognitif intermediate dan sebesar 9% penurunan fungsi kognitif berat. Nah…lumayan serius kan?

Obat Anti Hipertensi

Salah satu obat anti hipertensi yang efektif dalam menurunkan tekanan sistolik adalah kelompok obat yang disebut Calcium Channel Blocker (CCB). Kelompok obat inibekerja dengan menghambat masuknya fungsi kalsium dalam sel sehingga terjadi hambatan kontraksi otot polos. Seperti jantung dan pembuluh darah. Sampai saat ini CCB telah sampai pada generasi ketiga dengan obat-obat seperti amlodipin dan lercanidipin.

Keunggulan utama dari CCB generasi ketiga ini adalah selektifitasnya. CCB ini mempengaruhi relaksasi pembuluh darah (vasodilator) tanpa mempengaruhi kerja jantung. Jadi, aman bagi jantung. Waktu penyerapan yang lambat, demikian juga eliminasinya, akan mencegah turunnya tekanan darah secara tiba-tiba sehingga iskemia (kekurangan oksigen) bagi otak maupun jantung dapat dicegah. Selain itu keuntungan lain adalah dapat diminum sekali sehari.

Perlindungan terhadap otak diperoleh dari kemampuan CCB dalam menurunkan tekanan sistolik. Jika tekanan sistolik dapat dikontrol, maka resiko kerusakan otak dapat dicegah jadi resiko demensia juga dapat dihindari.

Sayangnya, untuk CCB generasi ketiga ini harganya relatif mahal, dan setelah saya lihat dalam daftar obat Indonesia, hanya amlodipin yang sudah tersedia sebagai obat hipertensi generik dan patent dengan merek dagang Amdixal, Tensivask, Norvask dan Divask. Untuk lecarnadipin, belom ada tuh yang beredar di Indonesia…